| Sepak Bola Australia Pun Gelisah | ||||
|
|
Australia, tetangga terdekat kita (4 jam terbang lewat Perth atau 6 jam lewat Sydney) dibanding tiga wakil Asia lain, tentu saja bukan lagi jadi penonton. Kemarin itu untuk ketigakalinya mereka berhasil meraih tiket putaran final setelah yang pertama pada 1974 dan yang kedua pada 2006. Pada 1974 mereka hanya meraih satu poin dari hasil seri tanpa gol melawan Cile, sedangkan pada 2006 “The Socceroos” mampu maju ke putaran kedua tapi tak bisa berlanjut lagi karena ditekuk Italia 1-0. Di Afrika Selatan kemarin tim yang ditangani pelatih asal Belanda Pim Verbeek itu memulai penampilan dengan sangat buruk hingga bisa dilumat Jerman 4-0. Tapi mereka mampu bangkit untuk bermain seri 2-2 melawan Ghana dan terakhir bahkan menang 1-0 atas Serbia, penakluk Jerman pada partai sebelumnya. Kekalahan selisih gol dengan Ghana membuat Australia gagal mengulang jejak empat tahun sebelumnya, dan inilah yang membuat performa mereka ditanggapi dengan agak minor. Bagaimana persisnya? Kebetulan minggu lalu, selama empat hari penuh, saya berada di Sydney untuk menikmati liburan musim dingin Australia sambil memenuhi sebuah undangan seorang teman baru yang sangat erat dengan dunia sepak bola. Namanya Jim Fraser, kiper Australia pada Piala Dunia 1974. Di atas tanah seluas setengah lapangan bola di kawasan barat daya Sydney ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan sepak bola yang istimewa karena hanya menyangkut urusan kiper. Namanya pun khas, yaitu IGA (International Goalkeeper Academy). Dibantu istri (yang tak kalah tangkas dalam ikut mengajarkan teknik menangkap bola), sejumlah staf, dan tiga asistennya, Jim dalam bulan ini menggelar apa yang disebutnya sebagai “July Goalkeeper Camp”. Puluhan peserta dari berabagai kelompok umur dari seluruh Australia dan Selandia Baru ambil bagian dalam kegiatan selama tiga hari penuh itu. Di antara mereka menyelip seorang peserta dari Indonesia, Ia (14 tahun) adalah anggota keluarga kami dan untuk itulah sebenarnya saya jauh-jauh dan berdingin-dingin ada di sana. Syukurlah, menurut Jim, performa dia cukup baik, bahkan pada hari kedua bisa langsung “naik kelas” dan mengikuti pelatihan berikutnya tidak lagi di kelompok umurnya. Saya juga bersyukur karena selama kami di sana udara Sydney selalu cerah sehingga hawa dinginnya tak terlampau terasa menusuk tulang. Baju kaus rangkap dua ditambah sebuah jaket sudah cukup menghangatkan tubuh. Koran pagi pun bisa selalu dinikmti dan dari sanalah saya bisa dengan cepat tahu apa yang sedang bergelora di jantung kegiatan sepak bola benua Kanguru. Kegagalan Tim Cahill dan kawan-kawannya menembus putaran pertama Piala Dunia 2010 ternyata cukup menggelisahkan buat para penggemrnya dan lebih-lebih bagi para pembina dan pengamatnya. Dengan hampir seluruh pemainnya dimatangkan oleh kerassnya kompetisi di berbagai liga di Eropa dalam empat tahun terakhir , wajar kalau mereka berharap Australia bisa berprestasi lebih baik dibanding pada Piala Dunia 2006. Karena itu kekalahan telak dari Jerman pada penampilan pertama dan kegagalan maju ke putaran kedua membuat pendukung sepak bola Australia terhenyak. Sebuah kekalahan yang menurut seorang pengamat, Graig Foster, disebabkan Australia terperangkap dalam gaya permainan lawan. Alias tidak bermain dengan pola dan gayanya sendiri. Sebagian orang lagi menganggap penampilan Selandia Baru, tetangga dan sekaligus musuh bebuyutan Australia di forum sepak bola, lebih mengesankan karena semangatnya yang tinggi dan konsisten, meski juga tak mampu lolos dari putaran pertama. Padahal, menurut striker klub Sydney United, Alex Brosque, Selandia Baru menggunakan pemain yang sebagian besar berlaga di kompetisi A-League (Liga Australia). “Kita tetap membutuhkan pelatih asing, tapi dia harus dengan penghargaan yang pantas terhadap para pemain A-League,” kata Brosque menyindir Verbeek di koran The Sydney Morning Herald. Foster sendiri dalam kolomnya di tabloid The Sun Herald kemudian menawarkan lima saran yang menurutnya akan bisa membawa Australia unggul dalam percaturan sepak bola termasuk merebut Piala Dunia. Saran pertama, bermainlah seperti Spanyol ketika mengalahkan lawan-lawannya di Afsel itu. Gaya permainan Spanyol itu disebutnya sebagai “cara proaktif” yang terbukti lagi telah mampu menuai sukses. Saran ketiga, selaras dengan saran pertama, kuasai bola selama mungkin. Dengan kata lain, mainkan possession football. Saran keempat, mainkan sepak bola sesuai kultur sendiri (untuk Australia: menyerang dan agresif seperti ketika melawan Ghana dan Serbia). Saran kelima, perbaiki manajemen, baik di jajaran kepeltihan maupun di lingkungan administrasi, lagi-lagi dengan mencontoh cara bagus Spanyol, dan juga Jerman. Apa saran kedua Foster dan kenapa dibelakangkan? Sengaja saya buat begitu supaya lebih menghentak karena kita pasti sangat sependapat dengannya. Kata Foster, “Develop our youth!”. Dalam bahasa kita, seperti yang sudah sangat sering kita kampanyekan, binalah para pemain usia muda. Investasi besar-besaran harus dicurahkan dengan menghdirkan pelatih-pelatih terbaik agar mendapatkan bibit-bibit terbaik pula. Jerman, Belanda dan Spanyol disebut Foster sebagai guru-guru terbaik untuk mencetak murid-murid yang didambakan Australia. Saran-saran Foster itu mungkin akan dipertimbangkan oleh para pengeleola FFA (organisasi sepak bola Australia). Tapi hari-hari ini mereka pun sedang dilanda kegelisahan lain, yakni menipisnya peluang untuk terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Itu tak lain gara-gara pemberitaan tabloid Herald itu juga yang mengungkap adanya praktek suap oleh oknum FFA kepada oknum pejabat sepak bola dunia (FIFA). Kegelisahan yang perlu ditunggu ujungnya! Oleh: Sumohadi Marsis |




APA KABAR sepak bola Australia, salah satu dari empat negara yang mewakili Asia dalam putaran final Piala Dunia 2010? Adakah mereka panik dan heboh seperti kita yang (setiap empat tahun) kembali bersatu dalam kegelisahan dan ketidakberdayaan karena kita masih saja menjadi penonton di tengah hiruk pikuk sepak bola dunia yang tampak semakin indah dan memesona?