Pembantaian Ala “Furia Roja”
Senin, 19 Juli 2010 09:15    PDF Cetak E-mail

MENYAKSIKAN pertandingan antara Spanyol melawan Jerman dan Belanda pada semifinal dan final Piala Dunia 2010 ibarat menyaksikan la corrida de toro yang sedang berlangsung di kota Pamplona dengan pesta yang paling terkenal, San Fermin. Pesta ini digolongkan sebagai  pesta terbesar ketiga di dunia setelah Karnaval Rio de Jeneiro dan Oktoberfest Munchen. Jerman dan Belanda ibarat banteng ganas, sementara Spanyol mengambil peran sebagai  matadornya.

Seorang matador yang hebat tidak terletak semata-mata bagaimana ia membunuh  sang banteng, tetapi bagaimana ia menari bersama sang banteng, bailar con la  muerte, menari bersama sang kematian, silap sedikit bukan tidak mungkin sang matador yang akan tersungkur di tanah. Sekalipun pertunjukkan ini kerap  dikritik oleh pencinta binatang, faktanya hampir di semua kota-kota besar,  kecuali Barcelona, la corrida de toro tetap menjadi tontonan yang menarik di kota-kota besar di Spanyol, Portugal, Prancis Selatan dan kota-kota di Amerika Latin.

Hanya ada dua kemungkinan ketika manari bersama binatang yang dapat membunuh,  anda yang dibunuh atau terbunuh. Siapapun yang memutuskan kariernya  sebagai seorang matador berarti ia memiliki nyali yang besar.  Banteng yang biasanya dapat mencapai berat 400 kg adalah banteng ganas, yang  akan menyeruduk setiap benda yang bergerak. Jika banteng tersebut lepas ke jalanan maka ia akan menyeruduk kendaraan yang lewat. Selain darahnya yang panas, banteng ini memang dilatih secara khusus setiap hari untuk berlari agar memiliki  kekuatan penuh ketika masuk ke Plaza de Toro, stadion di mana diadakan  pertarungan banteng dengan sang matador.

Seekor banteng yang masuk ke Plaza de Toro, yang nyatanya sudah ganas, akan  dibuat lebih ganas lagi dengan menusuk punggungnya beberapa kali sehingga  mengeluarkan darah segar. Setelah melewati pemanasan berdarah tersebut sang banteng sudah dianggap siap menjadi lawan tanding sang matador. Inilah saatnya  nyali dan kehebatan seorang matador diuji. Ia tidak akan menusuk dengan  seketika sang banteng, tetapi membiarkannya meliuk-liuk di sekitar tubuhnya,  tepatnya menari di samping si banteng. Silap sedikit, tanduk tajam banteng dapat menjadi ancaman maut.

Tampil elegan dengan tatapan tajam ke depan adalah  bagian dari seni menari bersama sang kematian. Konsentrasi penuh, waspada  tetapi tidak takut harus dimiliki seorang matador. Seorang matador harus  memiliki kesabaran untuk mengakhiri sang banteng. Pada Corrida de Toro selalu ada aturan yang harus diikuti, bahkan  aturan kapan mengarahkan pedang sepanjang lengan tangan dewasa ke tubuh si  banteng. Setelah tribun puas dengan pertunjukan kemahiran sang matador, maka  pimpinan atau yang kerap disebut presiden pertunjukkan tersebut akan memberi  aba-aba. Ini adalah moment krusial, bagi seorang matador, ia akan menatap   dengan tajam, dan mengarahkan pedang ke arah sang banteng. Seorang matador  hebat hanya membutuhkan satu kali tikaman untuk mengakhiri sang banteng.

Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Xabi Alonso memutar-mutar, menari-nari mempermainkan “Panser” Jerman  yang sebelumnya telah menggilas tampa ampun Inggris, bahkan Argentina. Tak  terbesit sedikit pun kekawatiran di wajah para pemain Spanyol dengan nama besar  dan sukses besar Jerman pada pertandingan sebelumnya.

Mungkin tepat mengulangi  kata-kata Manuel Benitez, seorang matador pada dekade 1960-an yang tak kenal takut  “Mas cornas da el hambre” (rasa lapar lebih menakutkan daripada tanduk  banteng). Keinginan untuk menang lebih besar daripada rasa takut untuk kalah  dari tim the great killer seperti Jerman.
Demikian halnya ketika menghadapi permainan kasar total kungfu football  Belanda. Sekalipun sejak awal isyarat permainan keras telah diperlihatkan, Spanyol dengan elegan mampu mempertahankan irama tiki-taka – sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Andres Montes, komentator olahraga Spanyol, sampai akhir pertandingan. Semua orang dapat dengan mudah mengahbisi sang banteng. Tetapi cara mengakhiri pertandingan dapat menentukan kualitas sang matador tersebut.

Setelah puas dengan tarian tiki taka atau juego combinado khas la roja, “la  roja” mengakhiri pertandingan dengan sebuah gol mematikan. Memang tidak perlu  banyak gol untuk mengesahkan sebuah kemenangan, cukup satu gol yang  melumpuhkan. Dalam Corrida de Toro, ketika sang banteng sulit dilumpuhkan maka  sebuah pedang dengan ujung yang melengkung sedikit akan digunakan untuk  menusuk bagian tengkuk sang banteng, sebuah tusukan yang akurat akan  melumpukan sang banteng dalam hitungan detik.
Sundulan kepala Puyol, pemain belakang dengan usia 30 tahun akan lama dikenang dalam sejarah bola demikian juga tendangan kaki kanan Iniesta setelah menerima umpan manis dari Cecs Fabregas dalam ruang yang sempit merupakan gol-gol ala matador.

Penulis adalah Wartawan TopSkor

 

Tulis komentar


Kode sekuriti
Refresh