Menunggu “LEBARAN KUDA”
Kamis, 15 Juli 2010 09:34    PDF Cetak E-mail

EFORIA Piala Dunia yang melanda planet bumi selama sebulan penuh (11 Juni s/d 12 Juli 10), kiranya “menekan” benak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terutama setelah beliau melakukan perlawatan kenegaraan ke beberapa negara, seperti Kanada, AS, Turki dan Arab Saudi. Setiba kembali di Tanah Air, dalam Sidang Kabinet Terbatas Presiden sempat melampiaskan kegundahan hatinya, karena beliau menyadari sepenuhnya kondisi persepakbolaan nasional yang prestasinya cuma sampai pada tingkat “anak bawang” di kawasan Asia Tenggara, padahal gelegar sepak bola masyarakat Indonesia luar biasa menyambut Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Apalagi  melalui Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang Maret lalu yang merupakan gagasannya, beliau tahu persis, apa yang menyebabkan prestasi Timnas selama tujuh terakhir ini “jeblok” terus.
Begitu gundahnya Presiden, sampai-sampai beliau membikin pernyataan: “Kalau tidak ada langkah konkret, sampai “lebaran kuda”, sepak bola Indonesia akan begini terus”. Diikuti pula dengan rencana Presiden memanggil Pimpinan KONI/KOI dan PSSI.

Pernyataan Presiden tersebut perlu dijabarkan menjadi implementasi harfiah, agar masyarakat mendapat gambaran yang faktual, demi pencerahan bagi rakyat secara menyeluruh, bukan hanya komunitas sepak bola saja. Coba garisbawahi kalimat; “Kalau tidak ada langkah konkret” = mutlak perlu ada tindakan yang jelas oleh semua pihak, termasuk tentunya pemerintah. “Lebaran kuda”= kemustahilan, artinya saat ini kebijakan yang ditempuh PSSI adalah kebijakan yang tidak mungkin/mustahil melahirkan Timnas yang berprestasi.
Oleh karena itu jalan pintas yang coba ditempuh oleh pemerintah, tampaknya adalah mendatangkan pelatih asing kelas “kakap”. Artinya, kebijakan PSSI yang mengontrak Alfred Riedl (Austria) menjadi pelatih Timnas Senior dan Junior dinilai kurang tepat.

Pelatih “kakap” yang diiming-iming pemerintah, sebagaimana diberitakan media massa berdasarkan keterangan Irman Gusman (Ketua DPD-RI) yang ikut rombongan Presiden melawat ke luar negeri adalah Fatih Terim, eks pelatih Timnas Turki dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2010 dan sebelumnya pernah melatih klub elite Turki  Galatasaray, klub Italia Fiorentina dan AC Milan.  

Meskipun belum ada pernyataan resmi pemerintah, namun dengan adanya pernyataan Sekjen PSSI Nugraha Besoes, bahwa Ketum PSSI sudah “kontak” Menpora Andi Mallarangeng, bahkan dijanjikan akan melakukan pertemuan, tampaknya Fatih Terim akan menjadi pelatih yang diincar untuk dipastikan.
Tepatkah Terim dijadikan solusi untuk meningkatkan prestasi persepakbolaan nasional? Jawabnya; belum tentu! Apalagi bila mendalami pernyataan Presiden “Kalau tidak ada langkah konkret”. Bagi kita Terim bukan “kunci” solusi, tetapi sekadar terobosan kecil, karena permasalahan besar yang mendera persepakbolaan nasional sejak tujuh tahun lalu adalah ketidakberesan dalam pengelolaan PSSI. Kita yakin, tidak usah Terim, Fabio Capello, Dunga atau van Marwijk jika diserahi tugas sebagai pelatih Timnas Indonesia, dalam kondisi saat ini, belum pasti mampu mengangkat prestasi persepakbolaan nasional, karena policy dan sistem yang dilaksanakan PSSI, lebih banyak bergaya politik dan sangat liberalistis, menganulir kepentingan nasional.

Riedl ketika mulai bertugas menyeleksi pemain, sempat mengeluh karena sulitnya mencari pemain yang benar-benar pantas dijadikan pemain nasional. Karena itu ia mengusulkan, agar jumlah pemain asing dalam klub-klub Liga Indonesia tidak berjumlah lima orang. Namun PSSI toh bergeming. Kompetisi 2010/2011 tetap memakai lima pemain asing, sehingga pelain lokal sulit untuk berkiprah. Lima pemain asing dipertahankan, sesuai keinginan sponsor.

Di saat-saat PSSI U-16 mengeluh kekurangan dana untuk mengikuti Kejuaraan AFF, di saat itu pula Pengurus PSSI memberi rekomendasi kepada sekitar 60 orang Pengprov melawat ke Afsel untuk nonoton semifinal dan final Piala Dunia. PSSI berdalih, mereka memakai dana sendiri, tetapi insan sepak bola tidak percaya, karena sejak lama rakyat sudah kehilangan kepercayaan terhadap PSSI.

Oleh karena itu jika pemerintah memang bertekad bulat untuk menjadikan pelatih asing kelas “kakap” sebagai terobosan di saat prestasi Timnas dalam keadaan “SOS”, jelas  tidak bisa berkutat hanya menyangkut figur pelatihnya, tetapi harus segera mengubah sistem yang diemban PSSI. Di antara yang wajib diubah; semua pemain nasional yang terpilih, dilepaskan dari kewajiban mengikuti kompetisi, banyak dilawatkan ke luar negeri bertanding dengan tim-tim negara setempat. Bahkan sudah saatnya diterapkan pola  “manager-coach”. Pola yang sekarang, ada manajer dan ada coach, betapa pun akan tetap melahirkan dualisme, baik secara fisik maupun mental.

Suatu hal yang pasti, bila memnggarisbawahi pernyataan Presiden, pemerintah tidak boleh terpesona pada figur pelatih asing belaka, tetapi wajib membalik ulang rekomendasi KSN Malang, ayat I: “PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul dan kritik serta harapan masyarakat, dan mengambil langkah-langkah konkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat”.
Pengurus PSSI selalu berdalih sudah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi, tetapi Presiden dengan tegas menyatakan, “Kalau tidak ada langkah konkret”, berarti dalih Pengurus PSSI itu adalah tidak benar. Presiden masih melihat tidak ada perubahan dalam tubuh PSSI, sementara Pemerintah (baca: Menpora) dan KONI/KOI membiarkannya, padahal KSN dilaksanakan atas inisiatif Presiden. Inilah sebenarnya yang menggelantungi benak komunitas sepak bola; Pemerintah/KONI  kok takut pada PSSI? *


Penulis adalah Pengamat Olahraga

 

Tulis komentar


Kode sekuriti
Refresh